Thursday, 20 October 2011

Malaysia Menjadi Majikan Indonesia, Benarkah?????........


Sungguh ironis keberadaan bangsa Indonesia dengan wilayah yang sangat luas di banding Malaysia, tetapi banyak masyarakat Indonesia mencari peruntungan menjadi buruh di negara tetangga, padahal bangsa Indonesia seharusnya tidak kalah dengan Malaysia dalam membangun segi ekonomi, melihat potensi sumber daya alam yang berlimpah ruah dari Sabang sampai Merauke.

Bangsa Indonesia merdeka lebih dahulu di banding Malaysia, tetapi dalam membangun ekonomi bangsa Indonesia masih tertingal jauh di banding Malaysia, bagaimana tidak?....masyarakat Indonesia masih jauh dari hidup layak berupa sandang, pangan dan papan masih banyak yang belum tercukupi, sehingga mengakibatkan kemiskinan masyarakat Indonesia yang tidak dapat dihindarkan, bahkan sangat ironis, sebagian masyarakat Indonesia ada yang mengalami kelaparan.

Melihat kekayaan alam yang berlimpah dari Sabang sampai Merauke, sudah seharusnya masyarakat Indonesia dapat hidup sejahtera, tetapi ternyata masyarakat Indonesia masih jauh dari harapan kesejahteraan, tentu ini menjadi pekerjaan rumah bagi pengelola negara, untuk terus membangun masyarakat yang adil dan sejahtera.

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, ternyata malah cenderung mengalami stratifikasi sosial yang sangat parah, sehingga memunculkan kesenjangan sosial yang tidak dapat dihindarkan. Inilah yang harus menjadi perhatian pengelola negara saat ini.

Sebagian besar kondisi masyarakat Indonesia jauh dari hidup sejahtera, ternyata mengakibatkan efek yang sangat menyedihkan, bagaimana tidak?..masyarakat Indonesia banyak yang berdatangan di negara Malaysia, untuk mengais rejeki dengan menjadi buruh, tentu kita tidak bisa menyalahkan masyarakat Indonesia yang mencari rezeki disana, mengingat negara sudah tidak mampu membuka lapangan kerja, bahkan sangat ironis para pengelola negara Berbondong-bondong membeli barang mewah yang jauh dari kemaslahatan masyarakat, sehingga tercipta kesenjangan sosial antara pengelola negara dengan masyarakat yang semakin melebar di tubuh bangsa Indonesia.

Malaysia merupakan negara kecil di banding Indonesia, ternyata mampu berdiri tegak menjadi majikan bangsa Indonesia, tentu ini sangat ironis mengingat kekayaan alam bangsa Indonesia yang berlimpah ruah, namun dalam pengelolaan negara telah mengalami kegagalan, karena dalam pengelolalan kekayaan alam Indonesia cenderung dinikmati hanya segelintir masyarakat Indonesia, sehingga pemerataan tidak terjadi ditengah-tengah kehidupan masyarakat, kalau masalah ini terus dibiarkan, maka bangsa Indonesia akan mengalami masa gawat, karena masyarakat Indonesia dapat menuntut sewaktu-waktu kepada pengelola negara, sehingga revolusi sosial akan merasuk dalam watak masyarakat di saat pengelola negara mengalami kegagalan secara terus-menerus dalam membangun sebuah bangsa.

Pengelola negara telah mengalami kegagalan dalam membangun kondisi ekonomi masyarakat, berangkat dari renungan itu, ternyata dalam benak saya terlintas pertanyaan apakah hubungan masyarakat Indonesia dengan negara tidak terjalin baik?......masyarakat Indonesia sering diberi penjelasan mengenai falsafah kenegaraan tentang keberagaman, tetapi tindakan real dari pengelola negara kurang memperhatikan masyarakat Indonesia, sehingga yang tercipta saling menyalahkan satu sama lain tidak terhindarkan. Inilah yang menjadi bumerang kerusakan di tubuh negara Indonesia saat ini.

Lalu pertanyaan datang lagi, apakah sistem kenegaraan Indonesia yang amburadul?...sistem kenegaraan bangsa Indonesia yang di bangun para pendahulu kita cenderung hasil dari buatan Belanda, sehingga mengakibatkan karakter pengelola negara juga seperti bangsa Belanda dalam memegang tampuk kekuasaan, sehingga tercipta hubungan antara pengelola negara dengan masyarakat tidak terjalin baik. Inilah yang harus diubah para pengelola negara, untuk terus membangun komunikasi dengan masyarakat, bukan hanya sekedar minta pajak kepada masyarakat, tetapi menjalin hubungan yang saling menguntungkan, itulah yang harus di lakukan dalam melaksanakan tugas pengelola sebuah negara Indonesia saat ini.

Pertanyaan terakhir kenapa Malaysia menjadi majikan Indonesia?.....Sebenarnya, masyarakat Indonesia menjadi buruh di luar negeri tidak hanya di Malaysia, namun sudah mencapai disegala penjuru Asia, bahkan sampai dunia (sungguh ironis) banyak masyarakat Indonesia yang menggantungkan penghidupan menjadi buruh disana, mengingat pengelola negara gagal memberikan lapangan pekerjaan, walaupun ada pekerjaan, tetapi gaji masih jauh dari kebutuhan hidup, sehingga masyarakat Indonesia cenderung terpaksa mengais rejeki diluar negeri dalam memenuhi kebutuhan perut. Wallahu a'lam bisshowab.............

Salam dari kami Jejaring sosial kiber (www.kitaberbagi.com)..........
.

Wednesday, 19 October 2011

Di Ramal Pada Tahun 2035 Nusantara Indonesia Menjadi Negara Islam


Bangsa Nusantara Indonesia dengan penduduk sekitar hampir 90 persen beragama Islam merupakan kekuatan masyarakat yang maha dahsyat, apabila masyarakat bergerak dan melakukan sebuah gerakan revolusi sosial, tentu akan menjadi kekuatan maha dahsyat tidak hanya di kawasan asia tenggara, namun dunia akan tersentak dengan kekuatan ratusan juta umat manusia di Nusantara Indonesia.

Negara Islam sebelum kemerdekaan Indonesia sudah ada sejak zaman Demak Bintoro, Samudra Pasai dan masih banyak lagi negara Islam di Nusantara Indonesia pada masa silam, namun di saat kedatangan kaum penjajah yang cenderung menindas masyarakat Nusantara Indonesia, ternyata membawa dampak suram bagi negara Islam di Nusantara.

Keberadaan negara Islam di masa silam di hapus oleh kaum penjajah. Inilah sejarah suram negara Islam di masa lalu saat para penjajah datang membawa kerusakan bangsa Islam di Nusantara, karena bangsa penjajah melakukan gerakan pemberangusan terhadap negara Islam di Nusantara, agar negara Islam segera hilang di permukaan bumi nusantara Indonesia.

Pada saat kemerdekaan bangsa Indonesia ada sejumlah tokoh menyetujui berdirinya sebuah negara Islam di Nusantara Indonesia, mengingat sejarah luhur negara Islam pernah berdiri tegak di bumi Nusantara, tetapi para penjajah menekan sebisa mungkin, agar bangsa nusantara Indonesia tidak memakai azas Islam, karena, apabila bangsa Indonesia memakai azas Islam sebagai cara pandang negara Nusantara Indonesia, tentu sangat membahayakan bagi bangsa barat, mengingat sejarah barat di Spanyol dan segala penjuru eropa pernah di kuasai negara yang berazaskan Islam. Inilah kekhawatiran terbesar bangsa penjajah eropa, kalau Nusantara Indonesia bernaungan dalam negara Islam.

Kaum penjajah melakukan tekanan terhadap bangsa Indonesia, untuk tidak memakai azas Islam dalam membangun sebuah bangsa Nusantara Indonesia, sehingga mengakibatkan wajah Demak bintoro, Samudra Pasai dan negara Islam nusantara yang dahulu kala pernah berdiri tegak di bumi nusantara mengalami kegagalan di teruskan anak negeri nusantara Indonesia, tetapi berangkat dari tekanan para kaum penjajah dalam melakukan pengambilan azas sebuah bangsa, ternyata sampai saat ini masyarakat Indonesia masih jauh dari hidup sejahtera, di karenakan hubungan antara konsep negara Nusantara Indonesia dengan naluri masyarakat bangsa Indonesia mengalami titik buntu, sehingga bangsa nusantara Indonesia mengalami regresi yang sangat gawat, bahkan penyimpangan di negara Nusantara Indonesia terbuka lebar bagi para penguasa, di karenakan hukum yang berlaku di Nusantara Indonesia memakai hukum dari bangsa penjajah Belanda.

Di ramal pada tahun 2035 bangsa nusantara Indonesia akan mengalami tonggak sejarah besar negara Islam, mengingat bangsa Indonesia saat ini mengalami kegagalan dalam menjalankan pengelolaan negara yang amburadul dan membawa kesengsaraan masyarakat nusantara Indonesia.

Masyarakat Indonesia yang ingin tahu mengenai bangsa Islam nusantara Indonesia, di harapkan menggali dan membaca sejarah Dinasti Demak Bintoro, Samudra Pasai dan masih banyak lagi negara Islam di nusantara, tetapi ironis sejarah kearifan negara Islam di Nusantara Indonesia dibekukan sedemikian rupa, bahkan di sengaja di musnahkan dari permukan bumi nusantara Indonesia oleh kaum penjajah, agar masyarakat bangsa nusantara Indonesia melupakan sejarah manis saat di pimpin berdasarkan negara Islam Nusantara Indonesia.

Wali Songo merupakan salah satu penggagas bangsa Islam di nusantara, bahkan suatu saat gagasan yang pernah di canangkan wali songo akan tumbuh kembang kembali di Nusantara Indonesia, sehingga pada tahun 2035 gagasan wali songo mengenai negara Islam nusantara akan hidup kembali dengan wajah baru bangsa Islam Nusantara Indonesia. Wallahu a'lam bisshowab............

Salam dari kami Jejaring sosial kiber (www.kitaberbagi.com)..........
.

Tuesday, 18 October 2011

Islam Menjawab Kemiskinan di Indonesia



Bangsa Indonesia adalah penjelmaan nusantara dengan keberagaman masyarakat dan kekayaan alam yang sungguh menakjubkan, tetapi masyarakat indonesia masih banyak yang hidup di garis kemiskinan, padahal masyarakat belahan bangsa nusantara yang lain dapat hidup sejahtera dan sentosa dalam meraih penghidupan, namun masyarakat bangsa Indonesia masih tertinggal dalam tata cara meraih penghidupan. Inilah yang menjadi perhatian seluruh masyarakat Indonesia, bahkan dunia menyorot masalah kemiskinan di bumi Indonesia saat ini.

Bangsa Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam adalah contoh negara yang hidup di belahan nusantara, tetapi bangsa tersebut mampu menghilangkan kemiskinan yang ada di Tengah-tengah masyarakat, sedangkan Indonesia mempunyai wilayah yang begitu luas dan kekayaan alam yang berlimpah, ternyata belum mampu meninggalkan masalah kemiskinan, bahkan ironis kelaparan menghantui masyarakat Indonesia, tentu ada yang salah di tubuh bangsa Indonesia saat ini, sehingga mengakibatklan kemiskinan masyarakat yang semakin parah di rasakan tiap detiknya.

Islam selalu mengarahkan kehidupan secara cerdas dalam melakukan kebijakan dengan melihat kondisi masyarakat dalam membuat sebuah negara maupun membuat kebijakan negara. Bangsa Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam adalah contoh negara nusantara yang mampu keluar dari jurang kemiskinan dan mampu hidup makmur dan sejahtera, karena masyarakat Malaysia dan Brunei Darussalam berpenduduk sebagian besar umat Islam dengan memakai cara pandang kenegaraan dengan cara Islam juga, begitu juga Singapaura membuat konsep sebuah bangsa sesuai dengan karakter masyarakat dan bangsa disana, sehingga tercipta hubungan yang saling menguntungkan satu sama lain, dan dapat tercipta bangsa yang mampu meraih kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat di dalam membangun sebuah negara di belahan nusantara.

Sedangkan hubungan masyarakat Indonesia dengan wajah negara Indonesia yang di bangun para pendahulu kita, ternyata mengalami kendala teramat besar dalam menciptakan hubungan negara dengan penghidupan masyarakat, sehingga dapat di tebak di saat negara dan masyarakat tidak sejalan, maka kerusakan akan terjadi dalam tubuh pemerintahan, sehingga mengakibatkan penyelewengan dan penyimpangan di tubuh pengelola negara tersebut, sehingga tercipta kemiskinan masyarakat Indonesia sampai detik ini belum terpecahkan.

Islam berusaha menjawab dengan cara membuat hubungan negara dengan masyarakat yang saling berkaitan satu sama lain, sehingga tercipta sebuah negara yang saling melengkapi antara masyarakat dengan negara, karena, apabila negara dan masyarakat tidak sejalan, tentu akan mengakibatkan destruktif dalam kehidupan masyarakat dan tentu kemiskinan akan terus menyerang bangsa Indonesia.

Masyarakat Indonesia hampir 90 persen beragama Islam, tetapi telah dikebiri dengan konsep yang dimiliki bangsa Indonesia dalam mengambil sebuah kebijakan masalah kenegaraan, sehingga terjadi hubungan yang buntu antara masyarakat Indonesia dengan konsep negara yang cenderung berkiblat terhadap bangsa penjajah Belanda.

Islam merupakan karakter masyarakat Indonesia, tetapi konsep negara tidak memakai konsep dalam Islam, sehingga hasil dari pemaksaan konsep negara yang tidak sejalan dengan masyarakat dapat kita rasakan saat ini, bahwa masyarakat Indonesia hidup penuh dengan kemiskinan, padahal hidup di negara dengan berlimpah kekayaan bumi, udara, dan laut yang sungguh menakjubkan mata dunia memandang.

Semoga bangsa Indonesia suatu saat dapat mengubah cara pandang kenegaraan yang sesuai dengan masyarakat Indonesia, sehingga tercipta negara yang sesuai dengan konsep Islam dan masyarakat Islam di Indonesia. Wallahu a'lam bisshowab............

Salam dari kami Jejaring sosial kiber (www.kitaberbagi.com)..........
.


Monday, 17 October 2011

Astagfirullah, Masyarakat Islam Indonesia Hidup di Negara Non Islam



Sungguh dilema keberadaan umat Islam di Indonesia, di satu sisi masyarakat beragama Islam, namun di si lain wajah negara tidak Islam yang menjadi azas sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga sampai detik ini masih ada masyarakat yang terus berjuang melakukan gerakan revolusi sosial dengan tujuan menciptakan sebuah negara Islam di Indonesia.

Malaysia bangsa tetangga Indonesia, sudah terlebih dahulu membuat negara Islam, padahal kemerdekaan terlebih dahulu di raih bangsa Indonesia, sehingga sampai detik ini bangsa Malaysia dapat hidup secara ideal antara karakter masyarakat dengan azas sebuah bangsa, sedangkan Indonesia masyarakat bependuduk Islam sekitar hampir 90 persen, tetapi masyarakat bangsa Indonesia tidak hidup berdasarkan negara Islam, bahkan ironis hukum yang berlaku di Indonesia cenderung warisan dari bangsa penjajah Belanda.

Kemajuan Malaysia tidak lepas antara kehidupan masyarakat dengan azas sebuah bangsa dapat berjalan searah, bagaimana tidak?.....masyarakat Malaysia berpenduduk dengan karakter Islam dan azas sebuah bangsa juga memakai Islam, sedangkan bangsa Indonesia berpenduduk Islam, namun negara berazaskan non Islam, sehingga yang terjadi ada titik buntu yang tidak saling berkaitan antara masyarakat dengan azas sebuah bangsa.

Kita masih ingat segar mengenai sejarah besar Majapahit, Sriwijaya, Kutai kartanegara, Demak bintoro, Samudra pasai dan masih banyak lagi dinasti yang ada di nusantara, ternyata antara kehidupan masyarakat dengan azas sebuah bangsa ada saling berkesinambungan yang tidak terpisahkan satu sama lain, bahwa masyarakat beragama Hindu, Budha, Islam atau agama lain tidak terpisah antara azas sebuah bangsa dengan kehidupan masyarakat, sehingga ada keterkaitan yang saling memberikan semangat dalam menjalankan sebagai masyarakat dalam bernegara.

Ketika masyarakat Islam hidup di negara non Islam, tentu akan terjadi sesuatu yang terputus antara kebutuhan politik dengan kehidupan, sedangkan masyarakat Malaysia cenderung ada keserasian antara kehidupan masyarakat dengan negara yang Sama-sama bersumber dari ajaran Islam, sedangkan Indonesia masih berkiblat dari Undang-undang buatan belanda, sehingga kehidupan masyarat dengan bangsa Indonesia terputus yang tidak saling berkaitan satu sama lain, bahkan keberadaan pemerintah cenderung memaksa dalam menjalankan tugas kenegaraan. Inilah yang dirasakan sebagian besar masyarakat Indonesia.

Masyarakat Islam di paksa mau tidak mau hidup dengan karakter yang berbeda antara kehidupan dengan kepribadian bangsa, sehingga terjadi keterputusan antara negara dengan kehidupan masyarakat yang saling tidak menemukan tali sambung menyambung. Inilah yang harus menjadi perhatian masyarakat Indonesia, kenapa kita tidak belajar dari Malaysia?....bahwa Malaysia mampu menggabungkan karakter masyarakat dengan azas kenegaraan, padahal Malaysia merdeka setelah Indonesia merdeka, tetapi masyarakat Malaysia mampu lebih makmur dan sejahtera terlebih dahulu di banding keberadaan masyarakat bangsa Indonesia pada umumnya.

Sebenarnya, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang punya pandangan keislaman yang tak kalah dengan Timur Tengah maupun bangsa Afrika Utara atau negara lain mengenai keislaman, tetapi masyarakat Indonesia di suruh hidup di negara dengan cara pandang non Islam, padahal Indonesia masyarakat terbesar adalah beragama Islam.

Saya selalu berdo'a, semoga ada reaksi revolusi sosial yang mampu meluruskan antara hubungan masyarakat dengan negara, agar terjadi keselarasan dan keseimbangan yang saling menguatkan satu sama lain, sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang dapat berjalan sejajar dengan karakter masyarakat pada umumnya, bukan masyarakat islam terpaksa hidup di negara non Islam, dan semoga tercipta negara " Baldatun thoyibatun warabbun ghafur ". Wallahu a'lam bisshowab............

Salam dari kami Jejaring sosial kiber (www.kitaberbagi.com)..........
.

Indonesia Bukan Negara Islam, Malaysia Menolak Bergabung


Bangsa Indonesia di saat memasuki zaman kemerdekaan penuh dengan segudang rintangan penghalang, bahkan sesudah kemerdekaan bangsa Indonesia masih terus di Intervensi bangsa raksasa Eropa, Amerika, dan Australia, mengingat bangsa Indonesia sangat berbahaya bagi bangsa barat, karena Indonesia merupakan bangsa terbesar di kawasan asia tenggara. Inilah yang menjadi masalah bagi bangsa barat di saat kemerdekaan Indonesia datang dan sesudahnya.

Malaysia pada saat Indonesia memasuki babak kemerdekaan, para pemimpin nusantara melalui gerakan nasional berupaya melakukan sebuah pendekatan politis, untuk menggabungkan bangsa nusantara dalam satu bendera, sehingga pada saat itu pemimpin dari bangsa Malaysia mulai melakukan gerilya politis dengan Indonesia, agar dapat menggabungkan antara bangsa Indonesia dan Malaysia di bawah satu bendera nusantara, namun perjalanan sejarah tak semulus yang di Cita-citakan para pemimpin bangsa di kawasan nusantara, mengingat bangsa penjajah masih meletakkan kaki di tanah nusantara, sehingga penggabungan kedua negara besar ini mengalami kegagalan.

Bangsa Malaysia siap bergabung dengan Indonesia dengan catatan harus sesuai dengan karakter masyarakat di negara tersebut, mengingat bangsa Malaysia punya karakter berwajah Islam di tengah-tengah kehidupan msyarakat, sedangkan Indonesia cenderung keberagaman dalam kehidupan masyarakat, sehingga bangsa Indonesia dan Malaysia tidak menemukan jalan integrasi dalam naungan satu bendera nusanatara, di sebabkan masalah cara pandang dan azas sebuah bangsa yang berbeda. Inilah yang menjadi kegagalan penggabungan Malaysia dengan Indonesia.

Sebenarnya, pada saat Detik-detik kemerdekaan bangsa Indonesia sudah mulai mempersiapkan azas berdasarkan Islam, namun melihat tekanan dari bangsa penjajah yang begitu kuat, sehingga Indonesia mengalihkan dari azas Islam menuju Pancasiila dalam meletakkan dasar negara Indonesia.

Melihat kondisi bangsa Indonesia yang tidak berazaskan Islam, maka bangsa Malaysia mulai mendekati Inggris, untuk minta dukungan kemerdekaan bangsa Malaysia, Inggris menyetujui dengan syarat kontrak politik yang mengatasnamakan, bahwa kemerdekaan Malaysia adalah hadiah dari bangsa Inggris, disitulah awal perselingkuhan Malaysia dengan Inggris dan mengingkari wajah bangsa nusantara Indonesia.

Berangkat dari argumen di atas kita dapat menarik kesimpulan, bahwa di saat mendekati kemerdekaan Indonesia, bangsa Malaysia mulai gerilya politis dengan Indonesia, untuk menggabungkan wilayah Malaysia dan Indonesia di bawah naungan bendera nusantara, namun melihat bangsa Indonesia yang tidak berazaskan Islam, maka bangsa Malaysia lebih memilih mendirikan bangsa sendiri di banding bergabung dengan bangsa Indonesia. Wallahu a'lam bisshowab............

Salam dari kami Jejaring sosial kiber (www.kitaberbagi.com)..........
.
.