Friday, 1 January 2016

Islam Vs Barat


By: Khoirul Taqwim

Masyarakat Islam dengan bangsa barat sudah terlahir sejak dahulu kala sebagai wadah antara pro dan kontra dalam menyikapi beragam realita kehidupan. Sehingga Islam tak jarang berseberangan dengan pola pikir bangsa barat yang cenderung mencari kelemahan masyarakat Islam di segala aspek kehidupan. Bahkan bangsa barat dalam catatan sejarah sampai saat ini tak jarang menggunakan senjata dalam melawan masyarakat Islam.

Benturan Islam dengan bangsa barat sudah terjadi sejak masa silam. Bahkan cenderung pertarungan warisan yang sampai saat ini masih berlanjut. Sehingga wajar informasi bangsa barat sering menyudutkan masyarakat Islam dalam pemberitaan. Inilah fakta lapangan yang sudah semestinya masyarakat Islam terus waspada dalam menghadapi serangkaian tipu daya bangsa barat.

Pertarungan Islam dengan bangsa barat tidak hanya sebatas masalah pemberitaan. Namun telah mewabah menjadi suatu benturan budaya yang terkadang bertentangan dengan masyarakat Islam. Nah! dari sinilah perlu sebuah perhatian khusus dari kalangan masyarakat Islam, agar dalam mencerna budaya dan informasi dari bangsa sekuler barat perlu di cerna dengan seksama dan berhati jernih dalam menyikapi persoalan yang datang dari bangsa barat.

Islam Vs Barat merupakan sebuah pertarungan yang sampai saat ini terus berlanjut dalam memberikan sebuah argumen tentang makna nilai sosial, budaya, negara dan masih banyak lagi dalam menerjemahkan di setiap persoalan yang datang dan pergi di Tengah-tengah kehidupan masyarakat dunia.

Keberadaan Islam di anggap ancaman bagi bangsa barat, sebab sejarah regresi bangsa barat tak lepas dari kondisi masyarakat Islam pada waktu zaman Bani Umayyah, Abbasiyah dan zaman keemasan Islam lainnya telah mengalami kemajuan pesat. Sehingga bangsa barat sampai hari ini berusaha keras menutup kemajuan masyarakat Islam dengan cara halus maupun dengan segala cara dalam bertindak.

Serangan bangsa barat terhadap Islam di zaman masa kini begitu gencar dengan cara menghembuskan sebuah informasi dengan mendiskreditkan masyarakat Islam. Sehingga masyarakat Islam terus mengalami perpecahan sampai menimbulkan kekacauan dalam tubuh masyarakat Islam.

Berangkat dari tulisan di atas perlu ada sebuah kebijakan masyarakat Islam dalam memfilter segala budaya, berita, idiologi dan segala produk dari bangsa barat, agar masyarakat Islam tidak terjebak dalam dogma negatif bangsa barat.

Keberadaan Islam Vs Barat merupakan sebuah tantangan besar bagi masyarakat Islam, agar terus menerus belajar di segala aspek kehidupan. Sehingga kedepan masyarakat Islam mampu kembali menguasai tongkat estafet atas kemajuan para pemimpin Islam, seperti: Shalahuddin Al-Ayyubi dan tokoh besar Islam lainnya dalam memenangkan di setiap pertarungan melawan bangsa barat. Dan Allah maha pemberi kemenangan terhadap orang yang sabar dan berjuang di jalan-NYA.

Thursday, 31 December 2015

Menentukan Jenis Kelamin HAM ala Islam Tradisional


By: Khoirul Taqwim

Jenis kelamin HAM yang ada di Indonesia masih bersifat abu-abu, padahal sudah semestinya HAM berpihak pada kearifan lokal, dan menjunjung tinggi falsafah tepa selira, bukan kebebasan dan keterbukaan yang berpangkal pada westernisasi.

HAM di Indonesia tak jarang menjadi alat westernisasi. Sehingga banyak kebijakan para pengiat HAM yang lebih membela rok mini, dari pada menegakkan nilai-nilai sopan santun ditengah-tengah kehidupan masyarakat.

Nah! kalau HAM di Indonesia sudah berbentuk westernisasi, berarti HAM di Indonesia telah menjadi propaganda para penggiat westernisasi dalam menegakkan nilai-nilai yang diusung dari bangsa barat. Mengingat nilai-nilai bangsa barat tak jarang bertentangan dengan nilai-nilai kearifan lokal.

Keberadaan HAM di Indonesia bagai buah simalakama, bagaimana tidak? HAM terlihat indah dibagian luarnya, tetapi sangat menusuk dibagian dalamnya, tentu ini merupakan sebuah fakta yang tak dapat dipungkiri atas nama HAM yang ada dinegeri Indonesia.

Berbagai gagasaan HAM memang terasa indah, apabila tidak bisa membedakan antara falsafah tepa selira dengan falsafah liberalisme ala barat. Karena HAM tak jarang berlindung atas nama liberalisme, padahal liberalisme yang dibangun dalam paradigma HAM bersifat westernisasi, tetapi bukan falsafah tentang sopan santun dalam kehidupan ditengah-tengah masyarakat.

Menentukan jenis kelamin HAM di Indonesia, sudah semestinya menggali dari falsafah nilai-nilai kearifan lokal, dan berpangkal pada nilai-nilai agama Islam, agar terjadi sebuah sinergi yang kuat dalam kehidupan masyarakat. Mengingat kearifan lokal merupakan kepribadian dan watak masyarakat, sedangkan nilai-nilai ke-Islaman merupakan ajaran agung dalam menentukan arah kebenaran dalam kehidupan didunia maupun diakhirat.

Islam tradisional merupakan sebuah gagasan dalam menggali kearifan lokal yang bertumpu pada nilai-nilai ke-Islaman. Sehingga Islam tradisional terus berupaya memberikan sebuah pandangan tentang berbagai fenomena klasik sampai fenomena kontemporer yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat secara luas.

Semoga Allah SWT selalu memberi pencerahan kepada para pembaca tulisan singat ini, Amiin.......

Wednesday, 30 December 2015

Membedah Paradigma Barat, Membangun Paradigma Islam


By: Khoirul Taqwim

Paradigma pada dunia pendidikan Indonesia, tak lepas dari pengaruh paradigma barat dalam menjelaskan beragam persoalan tentang kehidupan. Bahkan yang sungguh memprihatinkan banyak pelajar yang taklid buta dengan paradigma barat dengan mengamini, tanpa ada sebuah kritik maupun upaya dalam melakukan sebuah kajian ulang tentang paradigma barat.

Membedah paradigma barat di butuhkan sebuah analisa tentang Pokok-pokok ajaran barat dalam melakukan beragam kajian. paradigma barat cenderung mengarah tentang masalah logika, padahal logika yang di bangun paradigma barat hanya mengambil satu kajian dalam makna Sepotong-potong dalam menerjemahkan sebuah persoalan, dan setelah itu mengambil sebuah kesimpulan, tanpa melihat Premis-premis kecil yang lain.

Sedangkan paradigma Islam berupaya membangun pondasi ilmu pengetahuan dengan bentuk sebuah keseimbangan antara teks maupun konteks. Sehingga menghasilkan sebuah pola pikir yang kaffah dan tidak cenderung mengarah pada satu dalil dalam mengambil di setiap persoalan.

Bangsa barat sangat pandai bermain dalam wilayah rasional, untuk mengungkapkan sebuah yang di anggap kebenaran, padahal kebenaran yang di bangun cenderung kebenaran semu dalam menerjemahkan sebuah persoalan, tetapi sangat mengherankan banyak dari kaum pelajar di seluruh dunia yang tergila-gila dengan bangunan paradigma barat dalam mencari sebuah kebenaran.

Memang sangat di akui, bahwa logika dalam pemahaman barat telah di jadikan alat mencari sebuah kebenaran, tetapi logika paradigma barat hanya bertumpu pada kekuatan rasio, padahal permasalahan kehidupan sangat kompleks, tidak hanya sebatas masalah logika, namun jauh dari itu banyak misteri kehidupan yang tidak dapat di ungkap secara rasional. Kalau segala problem di selesaikan dengan kekuatan rasio, tentu akan menghasilkan sebuah kajian yang tidak seimbang dalam menerjemahkan sebuah persoalan.

Bangunan Islam dalam melakukan sebuah rekonstruksi paradigma pemikiran, tak lepas antara teks maupun konteks dalam menerjemahkan dalam sebuah persoalan, agar dalam melakukan sebuah permainan logika tidak mengalami over rasio yang mengakibatkan destruktif dari sisi yang lain.

Wajah paradigma barat cenderung pada satu sisi rasio dalam menerjemahkan sebuah persolan, Misalnya masalah paradigma kapitalisme cenderung satu sisi tentang kebebasan individu, begitu juga marxisme cenderung mengarah kediktatoran sosial. Berangkat dari dua contoh inilah, bahwa paradigma barat terjebak dalam satu sisi analisa dalam kajian, tetapi Islam mengajarkan secara kaffah dalam kehidupan.

Persoalan kehidupan begitu kompleks dalam tatanan sosial, tentu tidak hanya dapat di cari dalam satu sisi, tetapi harus di terjemahkan dalam beragam sisi, agar terjadi sebuah keseimbangan dalam mengkaji sebuah persoalan, dan semua itu di butuhkan sebuah kajian dalam bangunan secara lengkap dalam mengambil sebuah kesimpulan.

Liberal merupakan bagian dari ajaran bangsa barat tentang kebebasan, tetapi liberal dalam pemahaman para penggila gagasan paradigma barat, ternyata cenderung terjebak dalam kebebasan individu dan paling banter kebebasan dalam kelompoknya. Sehingga gagasan liberal yang di bangun barat hanya sebatas pada nilai secara parsial. Sedangkan bangunan dalam paradigma Islam tidak hanya sebatas sebuah pada Nilai-nilai kebebasan individu maupun kebebasan kelompok, tetapi membangun sebuah pondasi tentang Nilai-nilai kemanusiaan, moral, keadilan, kesejahteraan dan masih banyak lagi dalam ulasan tentang kehidupan.

Membedah paradigma barat tak lepas dari sebuah kajian tentang rasio dalam setiap memaparkan sebuah dalil, tetapi Islam berbicara melalui perpaduan antara jiwa dan akal dan di bungkus dalam istilah wahyu, tentu Islam berusaha membangun sebuah tatanan paradigma secara kaffah dalam kehidupan masyarakat secara luas.

Dari ulasan diatas dapat di ambil sebuah pemahaman, bahwa paradigma barat hanya mengambil satu sisi dalam menerjemahkan tentang sebuah persolan, tetapi Islam mengambil dari berbagai sisi secara kaffah, agar terjadi sebuah corak pandang yang bijaksana dalam mencari sebuah kesimpulan. Dan Allah lebih mengetahui segala Ilmu, Dia menciptakan dan memilih apa saja yang di kehendaki-NYA.

Tuesday, 29 December 2015

Kampus Dalam Sasaran Barat


By: Khoirul Taqwim

Kampus merupakan sasaran utama bangsa barat dalam merubah pola pikir masyarakat Islam, agar menjadi penganut gagasan bangsa barat dalam menerjemahkan di setiap persoalan yang datang maupun pergi. Sehingga banyak dari kalangan intelektual Islam mengikuti pola pikir dari bangsa barat dan kita kenal dengan istilah Islam liberal, Islam Inklusif, Islam sekuler dan masih banyak lagi istlah paham Islam yang berkiblat dari bangsa barat.

Keberadaan kampus telah di jadikan alat bangsa barat dalam memasukkan idiologi maupun budaya yang berkiblat pada pola pikir mereka. Sehingga wajar kalau para mahasiswa banyak yang terpengaruh dengan pola berpikir bangsa barat dalam menerjemahkan di setiap persoalan. Bahkan sebagian ada yang di bungkus dengan bentuk ilmiah maupun rasional, padahal hanya sebatas tipuan dengan bungkusan yang rapi dengan ilmu pengetahuan maupun dalam bentuk ilmu lainnya.

Memang kampus sangat rentan sebagai tempat sasaran dalam menyebarkan gagasan maupun ide dari bangsa barat. Nah! dari sinilah timbul sebuah realita, bahwa kampus telah di jadikan sebuah penyebaran sebagai wadah bangsa barat dalam merubah pola pikir para mahasiswa dengan memberikan sebuah ajaran tentang kandungan materialisme, Bahkan tak jarang atheis di masukkan dalam sebuah diskusi kecil dengan dalih membuka wacana para mahasiswa.

Perkembangan pola pikir bangsa barat justru tumbuh berkembang di dunia kampus. Sebab kampus merupakan tempat transformasi berbagai sumber ilmu pengetahuan dalam menjelaskan berbagai permasalahan purbakala maupun kontemporer.

Bangsa barat selalu melakukan berbagai manuver politis melalui kampus. Karena kampus salah satu tempat yang tepat dalam mengubah cara pandang masyarakat Islam. Sehingga selama kampus di kuasai pola pikir bangsa barat dengan kedok ilmiah dan rasional. Maka tidak heran kalau mendiskreditkan Islam akan semakin gencar di lakukan.

Kampus merupakan tempat yang tepat dalam menyebarkan gagasan kepada para mahasiswa. Sebab kalau para intektual muda telah di rasuki pola pikir bangsa barat yang cenderung materialis dan sekuler, berarti merusak Nilai-nilai dalam tubuh masyarakat Islam akan semakin mudah. Sehingga jangan heran kalau masyarakat Islam saat ini terpecah belah dengan stigma negatif berupa bentuk teroris, fundamentalis, konservatif maupun dalam bentuk miring lainnya.

Nah! dari sinilah kampus telah di jadikan sebagai alat bangsa barat dalam menyebarluaskan gagasan dan ide mereka. Sehingga kampus di dunia dan khususnya kampus di kawasan asia tenggara tak lepas dari serangan pola pikir bangsa barat dengan jurus ampuh materialisme maupun sekuler dalam memberikan suntikan terhadap para mahasiswa.

Bangsa barat merupakan bentuk dari berbagai wajah. Sehingga jangan heran di segala cara bangsa barat pandai dalam memainkan peran dan tak terkecuali dalam pusaran ilmu pengetahuan antara rasional dan Nilai-nilai keilmiahan.

Sudah tak asing lagi bangsa barat selalu bermain dengan kedok ilmiah maupun dalam bentuk rasional dalam membangun sebuah argumen, agar dapat di terima gagasan dan ide dalam otaknya, padahal semua itu hanya sebatas polesan wacana dan mengarah kepalsuan kebenaran. Semoga Allah selalu memberikan petunjuk kebenaran kepada para mahasiswa dari kesesatan dalam mencari secercah Ilmu, Amiin.......

Monday, 28 December 2015

Pendidikan Indonesia Dalam Kubangan Paradigma Bangsa Barat


By: Khoirul Taqwim

Pendidikan Indonesia sejak SD sampai tingkat perguruan tinggi, tak di nyana dan tak di kira dalam keilmuan hampir seratus persen mengadopsi bagian dari paradigma bangsa barat, Bahkan ironis kekayaan pemikiran di kawasan nusantara di telan habis dalam pola pikir bangsa barat. Inilah bentuk keprihatinan terbesar dari kalangan masyarakat yang perduli atas keselamatan dari masyarakat bangsa nusantara dari dogma bangsa barat yang saat ini berkembang pesat dalam dunia pendidikan Indonesia.

Bangsa Indonesia merupakan negara dengan tingkat pendidikan yang masih cenderung mengekor dalam teori berbagai ilmu pengetahuan, bagaimana tidak? pendidikan Indonesia masih mengadopsi sejumlah besar teori tentang paradigma bangsa barat yang tidak sejalan dengan falsafah nusantara. Sehingga wajar banyak para cendekiawan Indonesia yang tegila-gila dengan gagasan bangsa barat, tetapi lupa dengan gagasan teori yang sejalan dengan budaya dalam kehidupan masyarakat secara luas.

Soekarno merupakan tokoh besar dengan gagasan pancasila tak lepas dari menggali kekayaan nusantara, tetapi para cendekiawan Indonesia saat ini cenderung mengadopi paradigma pemikiran bangsa barat, baik berupa teori positivisme, liberalisme, nihilisme, pluralisme, marxisme, kapitalisme, materialisme, dan masih banyak lagi istilah paradigma pemikiran bangsa barat yang tumbuh berkembang di nusantara Indonesia. Namun sayangnya para cendekiawan yang di harapkan mampu mengimbangi paradigma bangsa barat malah terejerat dengan konsep bangsa barat. Sungguh ini merupakan peristiwa yang sangat ironis atas nasib pendidikan di tanah nusantara Indonesia.

Impor pengetahuan bangsa barat merupakan penerapan yang syah dalam memperoleh ilmu pengetahuan, apabila dalam pengejawantahan tak lupa dengan menggali kekayaan masyarakat nusantara itu sendiri dalam mendisplinkan antara ilmu pengetahuan bangsa barat dengan konteks kepentingan masyarakat nusantara, tetapi kalau hanya sebatas mengadopsi dari paradigma pemikiran bangsa barat dan di bawa kewilayah nusantara, berarti tak ada bedanya hanya sebatas memperpanjang kaki tangan idiologi bangsa barat.

Ilmu pengetahuan dengan segudang teori bangsa barat memang begitu sistematis masuk kewilayah pendidikan Indonesia dengan rapi. Sehingga banyak kalangan pelajar yang lupa kacang atas kulitnya, entah ini sebuah tindakan di sengaja bangsa barat atau memang ketidak mampuan para cendekiawan nusantara membendung gagasan bangsa barat.

Paradigma gagasan bangsa barat begitu cerdas membius sebagian besar para pelajar Indonesia, tentu semua tak lepas dari para Duta-duta cendekiawan bangsa barat, baik datang dari para cendekiawan bangsa barat itu sendiri, pada saat masuk kedunia pendidikan Indonesia atau datang dari duta cendekiawan masyarakat pribumi itu sendiri.

Keberadaan pendidikan Indonesia saat ini dalam kubangan paradigma bangsa barat. Nah! untuk melepaskan diri dari kubangan paradigma bangsa barat, sudah saatnya para cendekiawan melakukan penggalian ilmu dari khazanah nusantara, bahwa para cendekiawan nusantara harus mampu membuktikan diri dalam membangun sebuah teori dengan tidak mengekor konsep bangsa barat yang tumbuh berkembang secara pesat di dunia pendidikan Indonesia saat ini.

Ekspansi ilmu pengetahuan bangsa barat begitu deras menerpa bangsa Indonesia, kalau tidak sekarang melakukan sebuah gagasan dalam membendung teori bangsa barat, lalu kapan ekspansi ilmu pengetahuan bangsa barat akan berakhir? Inilah tantangan para pelajar Indonesia dalam menjawab gagasan bangsa barat yang saat ini banyak di gandrungi para pelajar dengan menamakan diri para kaum liberal.

Membendung keilmuan bangsa barat yang berpaham tak sejalan dengan ruh masyarakat nusantara di perlukan sebuah penggalian ilmu pengetahuan dari dalam maupun dari luar, tentu dengan berlandaskan Islam sebagai pengejawantahan dalam kehidupan akhirat maupun dalam kehidupan dunia. Semoga Allah membimbing kami dengan ilmu yang berkah dan bermanfa'at, Amiin......